Setiap orang tua memiliki “harapan” tersendiri terhadap anak-anaknya. Harapan agar anak menjadi soleh solehah, sehat, tumbuh berkembang sesuai usia, pintar di akademik maupun non akademik, supel, ramah, pemberani, percaya diri, daaaan lain-lain. Di tulisan lain, aku akan cerita tentang “memberi – tanpa harap kembali” ya InsyaAllah.

Salah satu cara untuk mewujudkan harapan tersebut adalah dengan membangun kebiasaan. Sebagai orang dewasa, orangtua memiliki kemampuan untuk mengendalikan kebiasaan seperti apa yang ingin diterapkan ke anak-anak mereka. Kebiasaan baikkah, burukkah, yang mana penilaian baik dan buruk ini tergantung atas standar pilihan setiap orang tua. Berdasarkan standar norma yang berlaku di keluarga dan masyarakat, standar yang dibangun sendiri oleh orang tua, atau berdasarkan standar kepercayaan (agama). Yup, kita bebas memilih standar apa yang mau diterapkan.

Sebagai Ibu dari seorang putri kecil, aku memilih untuk membangun kebiasaan berdasarkan kepercayaanku. Percaya bahwa nanti aku akan diminta pertanggungjawaban oleh Sang Pencipta atas apa yang aku berikan ke anakku.

Salah satu hal yang ingin kuberi sedari dini ke Putri Kecilku adalah menanamkan kebiasaan menutup aurat, yaitu menggunakan jilbab, baju dan celana panjang saat keluar rumah. Walau kadang kalo lagi ga kondusif (read: buru-buru atau baju panjang kotor semua) juga dipakein daster.

Anak bayi yang masih merah dan mungil, belum memiliki daya untuk menolak apa yang diberi orang tuanya. Dipakein topi, oke. Baju you can see, oke. Celana atau rok mini, oke. Jilbab, oke. Dan aku memilih memanfaatkan moment ini untuk membiasakan penggunan jilbab.

Di tengah berseliwerannya baju-baju, bandana, jepitan rambut lucu nan imut, aku mencoba menutup mata, ku berhasil menemukan jilbab harian yang lucu nan menggemaskan dan sangaaat nyaman digunakan.

Anaya Hijab

Anaya Hijab menyediakan berbagai jenis model jilbab harian untuk anak dengan harga terjangkau, bagiku saat ini dan semoga seterusnya Aamin. Punya berbagai pilihan warna cantik, yang kadang ini bikin ku senewen pengen punya semua warna lalu tersadar bahwa: inget budget bulan iniii ingaaaat. Nyamaan digunakan karena terbuat dari bahan jersey pilihan. Dan tersedia dengan berbagai ukuraan.

HIJAB SHDDQA
Berbagai jenis warna Anaya Hijab

Model Anaya Hijab terfavorit ku adalah Khadijah Hijab, mumpung ga pake duit anaknya jadi ku bebas mau beliin jenis apapun untuk dia wkwk. Cocok aja rasanya di kepala dan mukanya yang bundar itu (love). Dan aku hampiir punya semua warnanya (seandainya aku engga cepat sadar :p tentu udah punya semua )

Jilbab untuk si Kecil
Sumber: Dokumen Pribadi

Awalnya aku mengenalkan jilbab saat Putriku berusia 3 bulanan. Daaaan tentunya karena kita hidup bermasyarakat pasti akan ada yang nyeletuk ga enak, di telinga kita, tentang apa yang kita lakukan.

“Kasihan anaknya… kepanasan dia…”

“Nanti rambutnya ga tumbuh karena keringetan terus”

“Ngapain dipakein jilbab, masih kecil, ga bakal ditangkap WH (Wilayatul Hisbah) lah”

“Nanti kan udah besar pinter sendiri pakai jilbab ga perlu dari kecil gini kasian anaknya risih”

Ada lagi ga Sis? mungkin bisa ditambahkan di kolom komentar :p

Padahaaal saat itu, si anak posisinya tidak rewel, tidak kepanasan, bahagia-bahagia aja. Lantas kenapa orang lain yang sibuk?

Saat itu, aku belum belajar tentang “Fokus Ke Channel Sendiri” dan “Bagaimana Cara Hadapi Situasi Sulit.” Semoga nanti bisa nulis tentang ini. Apalagi posisinya baru lahiran, mood susah di kontrol. Jadilah kadang suka jawab yang mereka omongin, pengennya balas dengan kalimat nyelekit tapi kok ya ga tega. Jadilah cuman jawab alakadarnya “Kalau panas ya di kipas… Kalau dia keringetan ya tinggal di lap keringatnya atau dibuka jilbabnya.. Oh.. ini  cuman pengganti topi biar ga masuk angin…” atau cuman senyumin aja tapi hati panas.

Sebagai Ibu yang menggunakan jilbab, tentu akan lebih mudah dalam “mengajak” anak menggunakan jilbab. Karena kita menjadi teladan mereka yang setiaaap hari mereka lihat. Ketika kita memberikan paparan ke anak betapa nikmatnya pakai jilbab (ga ngeluh panas, santuy aja dlm segala suasana jilbab masih dipakai), anak akan tergerak sendiri untuk “meng-iyakan” ajakan kita. Cara mengajaknya? Balik lagi ke cara masing-masing orang tua. Karena orang tua yang bergaul lahir batin dengan anaknya, yang paling tau strategi hadapi sang anak.

Kalau akuuu, “Kita mau jalan-jalan. Pakai Jilbab dulu yuk, Nak”.

Kata-kata ini terus digaungkan sehingga anak pun akan terbiasa kalau mau keluar rumah, pakai jilbab terlebih dahulu.

“Jilbabnya mana yaa? Kita mau keluar ni.. (lalu dia inisiatif sendiri mencari jilbabnya).” Dan sejenisnya.

Kenapa aku bilang “mengajak”? Karenaa pasti kalau kita mengajak seseorang dengan kata-kata yang baik, lembut, santun, sopan, ya kan ya. Tidak mungkin kan mengajak dengan marah-marah atau suara tinggi, auto ditolak ajakannya.

Tentunya, pembiasaan ini jangan sampai menimbulkan trauma bagi si anak. Jika terlihat anak sudah tidak nyaman karena sangat kepanasan, biarkan dia sendiri yang melepaskan jilbabnya. Dan nanti saat suhu sudah kembali normal, ajak lagi sang anak untuk menggunakan jilbab.

Atau terkadang anak iseng membuka jilbabnya (mungkin dia mau ngetes atmosfir emosi emaknya ya), ya kita sebagai orang dewasa yang harusnya sudah bisa kendalikan diri, bisa siasati dengan kata-kata “Lhoo kenapa jilbabnya dibuka Nak? Pakai lagi yuk”. Biasanya anak mau ikuti instruksi, kalau ajakannya bernada enak didengar :p

Tapi.. InsyaAllah kalau anak sudah terbiasa, panas bukanlah halangan untuk tidak memakai jilbab. Dan kita juga buat suasana senyaman mungkin, sehingga anak betah memakai jilbab. Kalau panas ya dikipas, kalau keringetan ya di lap, kalau basah ya diganti jilbabnya, dsb.

Diperlukan konsistensi orang tua dalam mengenalkan ke anak bahwa jilbab itu nyaman, asik, keren, cantik. Tentunya dengan tidak “memaksa” mereka memakai jilbab, tapi “mengajak” mereka memakai jilbab.

Semoga kelak saat sudah baligh nanti, saat mereka sudah bertanggung jawab sendiri atas apa yang mereka lakukan (yang belum tentu kita masih hidup saat itu), saat mereka sudah tau bahwa jilbab bukan hanya untuk cantik, bukan hanya ikut-ikutan fashion terkini, bukan hanya untuk tidak kena angin :p, tapi karena jilbab adalah kewajiban dari Sang Pencipta dunia dan isinya (dan sadar kalau mereka adalah ciptaan Nya dan tinggal di bumi ciptaan Nya), mereka sudah terbiasa dan menjalankan kewajiban itu dengan hati yang riang gembiraaa.

Salam Semangaat,

Tiara.

 

28 thoughts on “Jilbab untuk Si Kecil

  1. Setuju mb, Akupun mengajak anakku memakai kerudung klo keluar rumah. masyaAllah, aku jd dpt referensi jilbab anak. syukron mb..

  2. alhamdulillah berhubung ibunya sudah ikutan bengkel diri , jadi pelan – pelan ingin menanamkan pakaian muslimah, terutama berawal dari penutub kepala , berhubung anakku perempuan semua, tapi yang paling betah pakai kerudung malah yang paling kecil 1,5th mba, secara si kakak masih mood” tan, kalau saya bawa kajian nah dia aku minta pakai kerudung, memang perlu pembiasaan , mungkin anaya Hijab patut di coba, warnanya lucu” πŸ™‚

    1. Alhamdulillaaaahh.. semangaaaatt mbaakkk.. semoga pembiasaan kita saat ini bermanfaat untuk anak-anak kita kelaakk.. terimakasih sudah mampir ya,,,

  3. Setuju. Membiasakan hal yang baik sejak dini adalah penting. Walau memang anak kecil apalagi bayi belum wajib menutup aurat, tak ada salahnya membiasakan sejak dini. Btw, lucu kerudungnyaβ€¦πŸ˜

    1. Iyes mbaak.. dan semuanya balik lg ke masing-masing ortu, kebiasaan apa yg mau ditanamkan ke anak2nya πŸ’™πŸ’™

  4. Betul mba, kadang memang harus tutup telinga klo dengerin komentar orang..doakan dapet rejeki anak perempuan jga ya mba 😊

    1. iyes mbaa beneerrr bgttt.. dan ternyata nutup telinga juga butuh energi besar kalau belum terbiasa. Aaaminnn insyaAllah yg terbaik mbaaa ❀

  5. Bener mba, ngajarin dari kecil lebih mudah dan lebih baik daripada pas besarnya malah susah buat nutup aurat. yang penting kita beri pemahaman ke si kecil kalau menutup aurat adalah perintah Allah …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s