Duluuu sekali, aku memahami konsep rezeki sebagai sesuatu yang berkaitan dengan pendapatan/ penghasilan; berupa uang atau hadiah. Bisa beli ini itu, bisa kesana kemari, dengan uang yang dimiliki. Jadi, kalau ada yang bilang “mau mencari rezeki”, ya aku mengartikannya “mencari uang”.

Sumber: PinterestSumber: pinterest

Atau ketika menjadi pemenang dalam suatu kompetisi dan dapat penghargaan, aku menamakan kondisi tersebut sebagai rezeki.

Di suatu pagi, aku iseng menonton instagram live Teuku Wisnu dan Ustadz Salim A. Fillah. Disini aku aku mendapat AHA! moment tentang makna rezeki yang sebenarnya.

“Rezeki adalah sesuatu yang bisa kita nikmati”

Ya Allah rasanya ini adalah makna yang benar-benar cocok untuk mendefinisikan kata rezeki!

Pantas saja aku pernah berpikir dan merasa hal seperti ini: Apakah dengan memiliki ratusan juta simpanan, akan menjamin kalau aku sudah bahagia dan tidak merana kini dan saat tua nanti? Apakah dengan memiliki penghasilan tetap, artinya aku sudah hidup nyaman? Dan aku menjawab untuk diriku sendiri: BELUM TENTU.

Alhamdulillah atas izin Nya, saat ini aku menyadari kalau pengertian rezeki yang aku pahami tersebut sangatlah sempit. “Rezeki itu bukan hanya uang loh Tir, tapi juga kesehatan, kebahagiaan, waktu luang, daan lain-lain”.

Dari sini aku mulai memperluas makna rezeki di kepala ku. Rezeki tidak terbatas pada nominal rupiah yang kita punya, berapa kilo emas yang kita simpan, seberapa besar dan megah rumah yang kita tempati, sekeren apa kendaraan yang kita naiki, dan sebagainya…

Sulit tentunya untuk menggeser pandangan tentang rezeki tersebut. Bagaimana tidak, sudah 20an tahun aku memaknai rezeki sebagai istilah lain dari Rupiah yang ada di dompetku :’)

Apa sih artinya kalau rupiah yang mati-matian kita cari namun tidak bisa kita nikmati? Mencari uang untuk membeli rumah (dan bayar pinjaman), bekerja sejak fajar hingga hingga petang bahkan malam, pulang ke rumah hanya untuk tidur. Hari libur tanggal merah masih tetap harus ber-acara di kantor demi dinilai bersosial atau karena penuhi perintah atasan, dan sebagainya.

Sungguh sangat mungkin orang lain menikmati hal tersebut namun tidak bagiku. Pantas saja, rezeki baginya belum tentu rezeki bagiku. Mungkin orang lain menikmati masa-masa berkarier hingga puncak dengan anak-anak yang dititipi di orang tua/mertua/tempat penitipan. Mungkin saja dia menikmati tanggal merahnya dengan nongkrong bersama teman kantor tanpa mengajak suami/ istri. Mungkin saja…

Aaaah ini namanya aku lagi jadi penonton hidup orang lain :p dikit-dikit komentarin orang, menghakimi orang, omongin orang, seolah-olah paling tau dan mengerti tentang mereka. Cap cus buang remote channel orang lain, Tir! (InsyaAllah nanti mau nulis tentang ini, tentang betapa pentingnya fokus ke channel sendiri)

Aku jadi teringat tentang barang-barang yang ada di rumah. Pakaian yang bertumpuk rapi dan berjejer di gantungan, hanya beberapa yang sering aku gunakan. Ada yang bahkan hanya dipakai setahun sekali. Aku memaknai pakaian yang sering aku pakai adalah rezeki ku, sedangkan yang lain adalah kenikmatan mata memandang pakaian yang berjejer saja (eh gimana gimana). Padalah bisa saja, ada jatah orang lain di lemari kita. Ada yang bisa jadi rezeki orang lain di rak sepatu kita yang penuh.

Dengan pengertian “Rezeki adalah sesuatu yang bisa kita nikmati”, maka tentu makna rezeki ini bisa apa saja tergantung orang yang mendapatkan rezeki tersebut. Si miskin mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah, baginya ini rezeki. Si kaya, bisa berjalan-jalan ke luar negeri dan bebas dari pinjaman sana sini, baginya ini rezeki. Si pejabat yang sibuknya luar biasa, namun memiliki keluarga yang men-support penuh kegiatannya, baginya ini rezeki. Sekantung darah, bagi si korban kecelakaan yang tengah membutuhkan banyak darah, baginya ini rezeki. Aaaah luas sekali ya gengs, makna rezeki ini. Setimba air bersih di daerah yang mengalami kekeringan, juga rezeki.

Bahkan di dunia per-mamak-an, anak yang sehat dan lincah adalah rezeki yang luar biasa, suami yang bersedia membantu mengerjakan pekerjaan rumah adalah rezeki, mertua yang tidak suka ikut campur urusan rumah tangga, adalah rezeki.

Jadi kalau ditanya, rezeki itu apa? Ya kembali lagi ke pribadi masing-masing: apa yang orang tersebut nikmati, itulah rezeki baginya. Apa yang kita nikmati saat ini? inilah rezeki kita.

Dan pertanyaan selanjutnya: “Sudahkah aku bersyukur atas rezeki hari ini?”

32 thoughts on “Apasih Makna Rezeki itu?

  1. Karena rezeki sudah tertakar.. bener² gak perlu banget khawatir
    Begitu bukan mba?
    Tulisan mba, melengkapi tulisan ku ♥

  2. Bener mbaa, makna rezeki ini luas bangeet, jd semoga kita jangan sampai kufur rezeki padahal pemahaman kita aja yg sempit. Alhamdulillah, masih diberi banyak rezeki oleh Allah hari ini, islam, kesehatan diri & keluarga, sampai waktu luang untuk Blog walking Hehe

  3. Daaann rezeki ku yg kusyukuri hari ini adalah dpt membaca tulisan pengingat ini, MasyaAllah bagus sekali dear

  4. Izin aku share ya mba kutipannya. Ngena banget aku suka tulisannya.
    Pakaian yang berjejer di lemari itu semoga bisa jadi rezeki orang lain.

  5. Insightnya bagus banget mbak. Emang ya, rejeki itu sesuatu yang kita nikmati. Apalagi kata Allah kalau kita bersyukur, kita akan diberikan lebih banyak lagi. Jangan sampai deh kita kufur nikmat. Masya Allah, Barakallah, Jazakillah khairan…

  6. MasyaAllah, terimakasih atas sharingnya mbaa. Terkadang nIkmat-nikmat kecil yang Allah berikan sering dilupakan karena pemahaman rezeki yang masih sangat sempit 😦 padahal itu adalah rezeki dari Allah yang sangat perlu di syukuri…

  7. Banyak bgt mba rezeki yg udah aku nikmatin per harinya, ga cukup disebutin satu2, yg kdg ga disadari pnya tetangga baik aja jga rejeki, keluarga sehat itulah rejeki yg tak ternilai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s